Rabu, 05 Mei 2010

Kepercayaan diri


“Kepunyaan-Nya segala makhluk yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk patuh kepada-Nya”
QS Ar-Ruum (Bangsa Romawi) 30:26

HS Habib Adnan (Ketua MUI Bali kala itu) adalah seorang yang rendah hati dan bersahaja. Ia mampu berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan baik, meski berhadapan dengan seorang pangdam, gubernur, menteri, pun ketua-ketua partai politik terkemuka. Dengan seapapun ia berbicara, tak sedikitpun ia kehilangan kepercayaan diri. Saya tak pernah melihatnya berbicara dengan orang-orang seperti di atas dengan merunduk, takut apalagi berpura-pura hormat namun ia tetap ramah, sopan, santun, dan tampak alami saja. Tak ada tawa ataupun senyuman yang dibuat-buat. Saya bias merasakn kepercayaan dirinya yang sangat kuat dan stabil, namun tetap sejuk. Sungguh, sebuah kepercayaan diri yang muncul dari dalam diri-kepercayaan diri yang mampu melihat manusia sebagai seorang manusia; kepercayaan diri yang timbul karena memiliki yang sesa-Tuhan sebagai pusat kepercayaan diri.

Begitulah, kalau saja setiap muslim mengetahui makna tauhid, niscaya mereka akan sangat bangga dan percaya diri menjadikan Islam sebagai agamanya. Kandungan pengertian “Kalimat Tauhid” (Laa Ilaaha Illallah) merupaka proklamasi kemerdekaan martabat kemanusiaan yang nilainya jauh melebihi Declaration of Human Right yang diagungkan di negeri barat. Masih ingat dengan cerita kawan lama saya, yang minder saat harus bertemu dengan mitra usaha saya yang berkunjung ke Bali itu ? (dokter dan master asuransi kesehatan dari Jakarta?). Tiga hari setelah peristiwa tersebut, saya bertemu dengan mitra usaha saya setelah kepulangan dari Bali. Saya tanyakan apakah teman lama saya itu menemuinya di Bali, ternyata tidak. Teman saya itu ternyata merasa gentar dan tak jadi menemuinya. Saya masih ingat kata-katanya waktu itu, bahwa dirinya merasa tidaklah ‘sekelas’. Ia telah kelihangan kepercayaan diri yang terbentuk dari luar ke dalam, bukannya dari dalam keluar seperti yang seharusnya.

Menurut John Fereira, konsultan dari Deloitte & Touche Consulting yang mengatakan : “seorang yang memiliki kepercayaan diri, disamping mamapu untuk mengendalikan serta menjaga keyakinan tersebut, akan mampu pula mampu pula membuat perubahan lingkungannya. Disamping keahlian teknis,’sang katalisator’ perubahan memerlukan sejumlah kecakapan emosi lainnya.’ Anda memerlukan seorang manager yang mempunyai kemampuan menghadap vice president tanpa merasa teretekan atau merasa rendah diri, meski ia hanya seorang manager lapis kedua. Budaya ‘merunduk-runduk’ kepada atasan adalah suatu hal yang menghambat sebuah informasi. Budaya ini terjadi karena prinsip ‘primordialisme’ yang telah mengakar di Indonesia, dimana mendulukan penghambatan diri daripada sebuah sinergi.

Pada tahun 1983, sebut saja Dirgantara (bekerja pada bagian pemasaran dan kini telah menjadi pengasaha sukses) menawarkan sebuah produk sejenis peralatan perbankan kepada beberapa perusahaan top perbankan saat itu. Ia menemui salah seorang pemilik bank di Jakarta untuk mempresentasikan produk unggulannya tersebut. Setelah melakukan presentasi panjang lebar, sang calon klien yang sudah sedari tadi tak merasa teretarik dengna produk itu tiba-tiba memukul meja, marah karena merasa dirinya telah didikte dan diceramahi. Sang calon klien langsung mengusir Dirgantara dengan omelan-omelannya:”Kamu tahu kamu siapa saya ! dan siapa kamu ! keluar kamu !”. Usai calon tadi melampiaskan amarahnya, Dirgantara muda tersebut diam dan tidak memperturutkan hawa nafsunya untuk keluar ruangan. Setelah kemarahan calon tersebut klien tersebut reda, Dirgantara muda berkata :”saya mohon maaf sekiranya saya merasa menyinggung perasaan Bapak namun izinkan saya untuk berterusterang tentang satu hal, saya merasa harus menyampaikan hal ini kepada Bapak. Untuk barang yang saya pegang ini, saya lebih tahu daripada Bapak. Saya mohon maaf, permisi.” Di tengah perjalan pulang ke kantor, Dirgantara muda termenung memikirkan peristiwa yang tidak mengenakkan itu, namun ketika sampai di kantor tiba-tiba semua orang menyalaminya sambil berkata : “Selamat Bung ! Anda baru saja menerima order dalam jumlah besar, seperangkat peralatan perbankan dari perusahaan yang baru saja Anda kunjungi. Pemiliknya baru saja menelpon kesini.” Inilah harga dari sebuah kepercayaan diri dan keberanian tinggi sehingga melahirkan kepercayaan diri orang lain.

“Dan milik-Nya apa yang di langit dan di bumi, dan kepada-Nyalah ibadah selama-lamanya. Maka mengapa kamu takutkan yang selain Allah ?”
QS An Nahl (Lebah) 16:52